Dari Metro ke Melbourne: Jejak Wakil Rektor IV UM Metro Menyambung Misi Global Muhammadiyah

MELBOURNE, Lawatan Muhammad Ihsan Dacholfany ke Australia bukan sekadar perjalanan akademik. Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Metro itu membawa mandat ideologis dan strategis: menyambung denyut kaderisasi Muhammadiyah di panggung global.
Sebagai utusan Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ihsan hadir sebagai narasumber Baitul Arqam bagi diaspora Muhammadiyah di Australia. Di saat yang sama, ia mengemban misi kampus membuka jalan internasionalisasi UM Metro melalui penjajakan kerja sama akademik lintas negara.
Agenda resmi itu diperluas dengan silaturahmi ideologis. Beliau bertemu jajaran Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Australia yang dipimpin Yudhistira Ardhi, Pengurus Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) di bawah Rina Febrina Sarie, hingga Pengurus Ranting Muhammadiyah Queensland. Rangkaian pertemuan itu menjadi ruang konsolidasi diaspora, menegaskan bahwa Muhammadiyah hadir bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai rumah ideologis bagi warganya di perantauan.
Momentum itu menemukan puncaknya saat Beliau mengunjungi Muhammadiyah Australia College (MAC) di Melton, Melbourne, amal usaha pendidikan pertama Muhammadiyah di luar Indonesia. Di sana, ia berdialog langsung dengan Hamim Jufri, anggota Badan Pembina Harian sekaligus Ketua Board of Directors MAC.
Dididirikan pada 2021 dan mulai beroperasi setahun kemudian, MAC berdiri di atas lahan 1,5 hektare. Sekolah ini melayani pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga menengah pertama, dengan kurikulum negara bagian Victoria yang diperkaya nilai Islam dan Muhammadiyah: pembinaan akhlak, tahfidz Al-Qur’an, serta penguatan Bahasa Arab.
MAC bukan sekadar sekolah. Ia adalah jembatan peradaban ruang pertemuan dua budaya: Indonesia dan Barat. “Anak-anak belajar hidup dalam dua dunia tanpa kehilangan jati diri,” ujar Hamim Jufri. Muhammadiyah bahkan telah menyiapkan lahan 10 hektare di Narre Warren sebagai pusat pengembangan amal usaha di masa depan.
Keberadaan MAC merupakan buah amanat Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar, yang menegaskan agenda besar internasionalisasi Persyarikatan. Jalan menuju berdirinya sekolah ini tidak singkat. PCIM Australia menghadapi keterbatasan dana, resistensi warga lokal, hingga proses perizinan yang ketat. Hingga akhirnya, izin resmi dari VRQA otoritas pendidikan Victoria menjadi penanda pengakuan negara setempat atas keseriusan Muhammadiyah.
Dari 36 siswa angkatan pertama, kini MAC menampung lebih dari 200 peserta didik dengan 35 guru bersertifikat Victorian Institute of Teaching. Statusnya sebagai sekolah independen dan ko-edukasi membuat MAC terbuka bagi berbagai latar belakang bangsa.
Dalam pertemuan itu, Beliau yang juga Ketua Forum Pimpinan AIK PTMA menawarkan gagasan konkret: membuka peluang magang dan praktik mengajar bagi mahasiswa perguruan tinggi Muhammadiyah di MAC. “Ini bukan hanya pengalaman akademik, tetapi pembelajaran lintas budaya yang strategis,” ujarnya.
Dari Melton, Muhammadiyah menegaskan pesan besarnya: dakwah tidak berhenti di batas geografis. Pendidikan menjadi bahasa universal, dan kaderisasi adalah napas panjang peradaban. Dari Metro hingga Melbourne, Muhammadiyah merajut masa depan tetap berakar, sambil menjangkau dunia.